Banyak Kasus Gangguan Penglihatan, Cek Mata Gratis Digelar di Tangerang untuk 300 Orang
Banyak Kasus Gangguan Penglihatan, Cek Mata Gratis Digelar di Tangerang untuk 300 Orang
JEC Eye Hospitals and Clinics baru saja menggelar inisiatif pemeriksaan kesehatan mata secara cuma-cuma yang menyasar ratusan warga di Kabupaten Tangerang, Banten. Langkah konkret ini diambil sebagai respons atas meningkatnya prevalensi gangguan penglihatan refraktif di Indonesia, seperti miopia (rabun jauh), hipermetropia (rabun dekat), dan astigmatisme (mata silinder), yang kini kian mengkhawatirkan dan menyerang berbagai kelompok usia.
Berdasarkan data terkini dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, potret kesehatan mata masyarakat menunjukkan angka yang cukup mendesak. Dari sekitar 55 juta penduduk berusia di atas 7 tahun yang menjalani proses skrining kesehatan mata sepanjang tahun 2025, ditemukan fakta bahwa sekitar 17 persen di antaranya mengalami gangguan penglihatan refraktif. Angka ini menjadi alarm bahwa kesehatan mata masyarakat Indonesia masih memerlukan perhatian ekstra dan intervensi medis yang berkelanjutan.
Fenomena gangguan penglihatan ini tidak muncul begitu saja. Para ahli kesehatan mata mengaitkan lonjakan kasus tersebut dengan perubahan gaya hidup modern yang serba digital. Kebiasaan menatap layar perangkat elektronik dalam durasi yang sangat lama, kurangnya intensitas aktivitas di luar ruangan yang terpapar cahaya alami, hingga pola kerja yang menuntut fokus penglihatan jarak dekat secara terus-menerus menjadi pemicu utama. Kondisi ini, jika dibiarkan tanpa deteksi dini, berpotensi menurunkan kualitas hidup dan produktivitas seseorang secara signifikan.
Dalam upaya memitigasi risiko tersebut, JEC Eye Hospitals and Clinics berkolaborasi dengan Parent Teacher Association (PTA) Secondary Syafana Islamic School di Pagedangan, Kabupaten Tangerang. Sinergi ini bertujuan untuk memberikan akses pemeriksaan mata yang inklusif dan mudah dijangkau bagi masyarakat yang membutuhkan. Target peserta yang dipatok dalam kegiatan ini mencapai 250 hingga 300 orang, yang terdiri dari tenaga pendidik, staf sekolah, masyarakat umum di sekitar lokasi, kelompok dhuafa, hingga para pelajar dari Atta’awun Educare Kampus Lengkong.
Senior Direktur Pengembangan dan Pendidikan JEC Eye Hospitals and Clinics, Prof. Tjahjono D. Gondhowiarjo, menekankan bahwa kunci utama dalam menanggulangi kelainan refraksi adalah deteksi sedini mungkin. Menurutnya, kesadaran masyarakat akan pentingnya pemeriksaan mata berkala masih tergolong rendah, padahal akses pemeriksaan mata yang luas adalah hak dasar yang harus didukung oleh berbagai pihak.
"Kelainan refraksi, seperti mata minus, plus, dan silinder, bisa menyerang siapa saja tanpa memandang usia, baik anak-anak yang masih dalam masa pertumbuhan maupun orang dewasa. Kondisi ini sering kali tidak disadari oleh penderitanya sejak awal karena gejalanya yang muncul perlahan. Padahal, gangguan sekecil apa pun jika diabaikan dapat menghambat proses belajar, menurunkan efisiensi kerja, hingga mengganggu kenyamanan kualitas hidup sehari-hari," jelas Prof. Tjahjono di sela-sela kegiatan, Rabu (28/10).
Melalui program pemeriksaan gratis ini, JEC berharap setiap peserta dapat mengetahui kondisi penglihatan mereka secara akurat. Dengan mengetahui diagnosis lebih awal, langkah penanganan medis dapat dilakukan secara lebih tepat sasaran, sehingga risiko komplikasi mata yang lebih serius di masa depan dapat ditekan. Lebih jauh, Prof. Tjahjono berharap kegiatan ini menjadi pemantik bagi masyarakat untuk menjadikan kesehatan mata sebagai prioritas gaya hidup, bukan sekadar respons saat terjadi keluhan.
"Kami sangat berharap bahwa kesempatan ini tidak hanya berhenti pada pemeriksaan saja, melainkan menjadi langkah awal untuk membangun kebiasaan menjaga kesehatan mata secara berkelanjutan. Kami juga mendorong agar setiap peserta yang telah mendapatkan manfaat dari kegiatan ini dapat meneruskan kepedulian tersebut kepada keluarga di rumah serta masyarakat di lingkungan sekitar mereka," tambahnya.
Di sisi lain, pihak sekolah melalui Ketua PTA Secondary Syafana Islamic School, Sundus Wahidah, memberikan apresiasi tinggi terhadap kolaborasi ini. Bagi pihak sekolah, keterlibatan dalam bakti sosial kesehatan mata merupakan bentuk nyata pendidikan karakter yang melampaui kurikulum di dalam kelas. Pendidikan, menurut Sundus, tidak hanya sebatas teori akademik, tetapi juga tentang bagaimana menumbuhkan empati dan kepedulian terhadap kondisi lingkungan sekitar.
"Kami ingin mengajarkan kepada siswa dan seluruh komunitas sekolah bahwa menjadi cerdas saja tidak cukup. Ada nilai kemanusiaan yang harus dijunjung tinggi, yakni kepedulian terhadap sesama yang membutuhkan. Dengan memfasilitasi kegiatan ini, kami ingin mengajak seluruh komunitas sekolah untuk berkontribusi sesuai dengan perannya masing-masing dalam meringankan beban masyarakat sekitar, terutama dalam hal kesehatan mata yang sangat vital bagi kehidupan," ungkap Sundus.
Pentingnya menjaga kesehatan mata di era digital saat ini memang tidak bisa ditawar lagi. Mata merupakan organ vital yang menerima beban kerja berat setiap harinya. Paparan sinar biru (blue light) dari gawai, polusi udara, hingga gaya hidup kurang gerak telah menjadi "musuh" tersembunyi bagi kesehatan penglihatan masyarakat urban. Program yang diinisiasi oleh JEC dan Syafana Islamic School ini diharapkan mampu menginspirasi berbagai institusi lain untuk turut bergerak melakukan aksi serupa.
Selain pemeriksaan tajam penglihatan (visus), kegiatan sosial ini juga memberikan edukasi mengenai cara menjaga kesehatan mata yang benar, seperti penerapan aturan 20-20-20. Aturan ini mengharuskan seseorang untuk mengistirahatkan mata selama 20 detik setelah menatap layar selama 20 menit, dengan cara melihat objek berjarak 20 kaki atau sekitar 6 meter. Edukasi sederhana namun efektif ini menjadi bagian tak terpisahkan dari misi besar JEC untuk meningkatkan literasi kesehatan mata di Indonesia.
Antusiasme peserta dalam kegiatan di Tangerang ini membuktikan bahwa kebutuhan akan layanan kesehatan mata masih sangat besar. Banyak dari peserta yang baru pertama kali mendapatkan akses pemeriksaan mata komprehensif, sehingga mereka merasa terbantu dengan adanya layanan ini. Dukungan dari berbagai pihak, termasuk tenaga medis profesional dari JEC, memberikan kenyamanan dan rasa aman bagi warga yang merasa memiliki kendala penglihatan namun terkendala biaya atau akses menuju rumah sakit.
Ke depan, diharapkan program-program serupa dapat diselenggarakan secara lebih masif dan rutin. Sinergi antara sektor kesehatan swasta, institusi pendidikan, dan masyarakat luas merupakan formula yang efektif dalam menekan angka gangguan penglihatan di Indonesia. Dengan mata yang sehat, generasi mendatang diharapkan memiliki kualitas hidup yang lebih baik, sehingga mampu berkontribusi maksimal bagi kemajuan bangsa.
Kegiatan pemeriksaan mata gratis di Tangerang ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa kesehatan indra penglihatan adalah investasi jangka panjang. Jangan menunggu sampai penglihatan kabur atau mengalami nyeri mata yang hebat untuk memeriksakan diri ke dokter. Deteksi dini adalah tindakan preventif paling murah dan efektif untuk menjaga jendela dunia kita tetap jernih dan berfungsi optimal sepanjang hayat. Mari mulai peduli dengan kesehatan mata kita, demi masa depan yang lebih jelas dan produktif.
