IFSRC Dorong Diplomasi People-to-People dan Dialog Peradaban Indonesia–Tiongkok
IFSRC Dorong Diplomasi People-to-People dan Dialog Peradaban Indonesia–Tiongkok
Hubungan bilateral antara Indonesia dan Tiongkok kini memasuki babak baru yang lebih strategis, melampaui sekadar transaksi ekonomi dan investasi. Momentum ini ditandai dengan peluncuran Indonesia Friends of Silk Road Club (IFSRC) yang berlangsung dalam Seminar Nasional di Hotel Borobudur, Jakarta, pada Selasa (15/9/2026). Inisiatif ini menjadi wadah krusial untuk memperdalam diplomasi antarmasyarakat (people-to-people exchanges) serta merajut dialog peradaban yang lebih inklusif di tengah dinamika geopolitik global.
Seminar yang mengangkat tema "Memahami Global Civilization Initiative (GCI) dari Perspektif Hubungan Indonesia–Tiongkok" ini diinisiasi oleh Sino-Nusantara Institute, sebuah lembaga think tank independen yang berdedikasi untuk menjembatani pemahaman kultural dan sosial antara kedua bangsa. Kehadiran IFSRC diharapkan mampu menjadi katalisator bagi terciptanya rasa saling percaya (mutual trust) yang lebih mendalam, mengingat Tiongkok saat ini merupakan mitra dagang terbesar bagi Indonesia.
Dalam sambutannya, Wakil Ketua DPR RI, Sari Yuliati, menegaskan bahwa lanskap hubungan internasional di abad ke-21 telah mengalami pergeseran paradigma. Menurutnya, stabilitas dan keberlanjutan kerja sama antarnegara tidak lagi cukup hanya mengandalkan diplomasi formal tingkat tinggi atau Government-to-Government (G2G). "Diplomasi pada abad ke-21 tidak dapat lagi hanya mengandalkan pendekatan formalistik. Kita harus berakar kuat pada people-to-people exchanges agar tercipta penghormatan serta kesalingpengertian yang organik antarwarga negara," ujar Sari Yuliati di hadapan para delegasi.
Senada dengan hal tersebut, Sekjen Kementerian Agama, Prof. Dr. Phil. H. Kamaruddin Amin, M.A., menyoroti pentingnya dialog peradaban dalam kerangka Global Civilization Initiative (GCI). Ia menekankan bahwa Indonesia, sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia dan masyarakat yang majemuk, memiliki posisi strategis dalam mempromosikan nilai-nilai moderasi dan toleransi di tingkat global. Melalui IFSRC, dialog antara nilai-nilai luhur Nusantara dan filosofi peradaban Tiongkok diharapkan dapat melahirkan solusi atas berbagai tantangan global yang bersifat lintas batas.
Sementara itu, perwakilan Kedutaan Besar Republik Rakyat Tiongkok (RRT) untuk Indonesia, Mr. Zhou Kan, menyambut positif kehadiran IFSRC. Ia menyatakan bahwa diplomasi people-to-people adalah "pondasi sosial" dari hubungan bilateral yang kokoh. Dalam pandangan Tiongkok, GCI bukan sekadar inisiatif kebijakan luar negeri, melainkan upaya untuk menghargai keberagaman peradaban manusia di dunia yang semakin terpolarisasi.
Mengapa Diplomasi People-to-People Menjadi Kunci?
Dalam sejarah panjang hubungan Indonesia-Tiongkok, interaksi ekonomi sering kali mendominasi ruang publik. Namun, investasi infrastruktur, perdagangan komoditas, hingga proyek strategis nasional (PSN) sering kali menyisakan tantangan berupa kesenjangan persepsi di tingkat akar rumput. Di sinilah peran IFSRC menjadi sangat krusial. Klub ini didesain untuk merangkul akademisi, budayawan, pelaku bisnis, hingga generasi muda dari kedua negara untuk duduk bersama dalam ruang dialog yang egaliter.
Diplomasi people-to-people berfungsi sebagai "jaring pengaman" ketika tensi geopolitik meningkat. Ketika masyarakat kedua negara telah memiliki keterikatan emosional dan pemahaman budaya yang kuat, gesekan-gesekan kecil di tingkat politik formal tidak akan mudah merusak kemitraan jangka panjang. IFSRC berencana untuk memfasilitasi program pertukaran pelajar, residensi seniman, kolaborasi riset antar-universitas, hingga forum dialog tokoh agama untuk memperkecil jarak kultural.

Relevansi Global Civilization Initiative (GCI) bagi Indonesia
Konsep Global Civilization Initiative yang dipromosikan oleh Tiongkok menekankan pada empat pilar utama: penghormatan terhadap keragaman peradaban, menjunjung tinggi nilai-nilai bersama umat manusia, pentingnya warisan dan inovasi peradaban, serta penguatan kerja sama pertukaran antarmasyarakat.
Bagi Indonesia, nilai-nilai ini sangat selaras dengan prinsip Bhinneka Tunggal Ika. Indonesia memiliki rekam jejak panjang dalam mengelola keberagaman dan mempromosikan dialog antariman. Integrasi antara perspektif Indonesia yang berbasis pada Pancasila dengan GCI dari Tiongkok berpotensi menjadi model baru bagi kerja sama Selatan-Selatan. IFSRC akan menjadi laboratorium intelektual di mana para ahli dari kedua negara membedah bagaimana modernisasi di Tiongkok dapat diselaraskan dengan nilai-nilai kearifan lokal di Indonesia tanpa harus kehilangan identitas nasional masing-masing.
Menatap Masa Depan: IFSRC sebagai Jembatan
Peluncuran IFSRC bukan sekadar seremoni formal. Ke depannya, lembaga ini diproyeksikan menjadi hub informasi dan kolaborasi yang mampu memberikan rekomendasi kebijakan bagi pemerintah kedua negara. Dengan melibatkan elemen masyarakat sipil, IFSRC dapat memberikan masukan yang lebih objektif dan menyentuh realitas lapangan terkait isu-isu ketenagakerjaan, transfer teknologi, hingga perlindungan lingkungan dalam kerja sama ekonomi.
Tantangan terbesar dalam diplomasi people-to-people adalah memecah sekat prasangka (prejudice). Sering kali, informasi yang tidak lengkap mengenai satu negara menimbulkan stigma negatif. Melalui seminar rutin, publikasi jurnal, dan festival budaya yang akan diorganisir oleh IFSRC, diharapkan masyarakat Indonesia dan Tiongkok dapat saling mengenal lebih dalam, tidak hanya sebagai mitra dagang, tetapi sebagai sahabat yang saling mendukung kemajuan peradaban.
Dalam konteks ekonomi, Tiongkok adalah mitra yang tak terelakkan bagi Indonesia. Namun, dengan adanya IFSRC, hubungan ini diharapkan berkembang dari sekadar transactional partnership menuju comprehensive strategic partnership yang berbasis pada empati dan rasa saling menghargai. Indonesia, dengan posisinya sebagai kekuatan menengah (middle power) yang berpengaruh di kawasan ASEAN, memiliki kapasitas untuk memainkan peran penting dalam memastikan bahwa hubungan dengan Tiongkok berjalan dalam koridor yang saling menguntungkan (win-win solution).
Kesimpulan
Peluncuran Indonesia Friends of Silk Road Club (IFSRC) adalah langkah maju yang sangat relevan. Di tengah dunia yang sedang mencari bentuk baru tatanan global, diplomasi people-to-people menjadi instrumen paling efektif untuk menjaga perdamaian. Dengan memperkuat dialog peradaban, Indonesia dan Tiongkok tidak hanya sedang membangun ekonomi, tetapi juga sedang merajut masa depan bersama yang lebih harmonis.
Kehadiran para tokoh nasional seperti Sari Yuliati dan Prof. Kamaruddin Amin dalam acara peluncuran ini menunjukkan adanya komitmen lintas sektor dari pemerintah Indonesia untuk mendukung inisiatif ini. IFSRC kini memegang tanggung jawab besar untuk membawa semangat dialog ini ke tingkat yang lebih luas, merangkul masyarakat umum, dan memastikan bahwa "Jalur Sutra" modern bukan hanya soal pergerakan barang, tetapi juga pergerakan ide, gagasan, dan persahabatan antarmanusia.
Pada akhirnya, keberhasilan hubungan Indonesia-Tiongkok akan diukur bukan dari angka-angka neraca perdagangan semata, melainkan dari seberapa dalam masyarakat kedua negara mampu memahami satu sama lain. IFSRC telah meletakkan batu pertama, dan kini saatnya seluruh elemen bangsa terlibat untuk memastikan bahwa jembatan peradaban ini berdiri kokoh, melintasi zaman, dan memberikan manfaat nyata bagi kesejahteraan serta kedamaian kedua negara di masa depan.
